CALL US
+62811 4112 0970
E-MAIL
humas@spidi.sch.id

Berada jauh dari SPIDI, kebiasaan bangun jam 2 tetap diterapkan

SPIDI/Kampong Arab, Singapore – “Saya bangun jam 2 subuh Sir. Sudah terbiasa di asrama mungkin,” Kata Nadya Ulya Daniel siswi peserta SPIDI Singapura Malaysia (SM) Race 2020. Alhamdulillah dua hari di Singapura peserta bangun subuh lebih awal dari penghuni lain di Kampong Arab Hostel.

Bangun lebih awal di Singapura mungkin sedikit atau terlalu cepat, buat mereka sebab di negara sang pangeran Sang Nila Utama, yang waktu subuhnya jatuh hampir pukul enam.

Setelah bersiap-siap pukul 06.30 kami bergegas menembus udara dingin Singapura, menuju Masjid Sultan yang cuma berjarak beberapa puluh meter dari tempat kami menginap.

Dan setelah beberapa saat, Masjid Sultan menyambut kami dengan megah bangunannya yang didominasi oleh warna emas dan putih. Kami pun masuk dan melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Suasana khusyuk menyertai sholat berjamaah kami, ditambah oleh lantunan merdu surah Al Furqan dan tenangnya kota. Setelah melaksanakan kewajiban, peserta SM Race pun melanjutkan ke Zam Zam Restoran untuk sarapan pagi. Restoran muslim ini menyediakan berbagai makanan halal dari Arab, India bahkan Indonesia. Kami sepakat memesan roti canai dan teh tarik panas.

Nikmat Allah pun datang dari arah yang tak disangka, saudara semuslim di tanah Singapura

Masya Allah, sungguh Allah selalu memberi kejutan terbaik bagi hamba-hambanya. Tiba-tiba saja pelayan Zam Zam menghampiri kami dan berkata “Assalamualaikum brother, semua makanan dan minuman ini gratis dan sudah dibayarkan,” ungkapnya.

Kami pun terkejut dan bertanya siapa yang telah membayar. Ternyata seorang pengunjung setia restoran, pria paruh baya yang membayarnya. Hanya saja dia tidak ingin disebut namanya. “Ini dari saudara-saudara muslim di Singapura buat akhi dan para student,” katanya sambil tersenyum lalu memberi salam dan pamit untuk pulang. Masya Allah.

Di negara ini, selalu ada kisah menarik yang dapat kami petik

Melanjutkan cerita tentang Singapura. Negara multikultural seperti Singapura memang tempat yang baik untuk belajar dan memperluas wawasan tentang budaya dan bahasa asing.

Ada cerita menarik lain lagi selama peserta SPIDI M Race 2020 melakukan aktivitasnya di negara ini.

Kebanyakan dari kita masyarakat Indonesia menganggap bahwa Singapura dominan telah menggunakan Bahasa Inggris. Sehingga bergaul dengan mereka harus speaking English. Ternyata anggapan tersebut tidak berlaku.

Memang pemerintah Singapura telah menetapkan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua mereka. Namun jika anda berkunjung ke sini, tidak semua dapat diajak berbahasa Inggris, utamanya jika orang itu dari India dan Arab.

Dari hasil pengamatan peserta SM Race, kebanyakan dari mereka tidak akan mengerti bahasa Inggris. “Brother, saya tidak mengerti apa yang kamu cakap,” kata salah seorang India yang kami temui saat race.

Jika ingin melatih bahasa Inggris maka cobalah berbicara dengan etnis Tiongkok. Namun bersiap-siaplah karena pronunciation mereka tidak seperti yang anda harapkan. Mereka punya dialek bahasa Inggris sendiri dan pronunciation yang super ribet. Jika tidak terbiasa maka anda tidak akan mengerti sama sekali dengan perkataan mereka.

Seperti pengalaman Maya Aqila Zahrah, siswi SPIDI kelas 8 contohnya saat bercakap dengan driver bis SBS Transit Singapura ketika menanyakan arah ke Singapore Air Force museum.

“Butuh waktu beberapa waktu dan sedikit gesture sehingga kita bisa saling mengerti satu sama lain,” ungkap Maya.

Sementara itu Nayla Az Zahra Tafsir peserta SM Race mengatakan Alhamdulillah saat bercakap dengan mereka tidak ada masalah yang berarti. (Ind)

Oleh: Andi Mauraga.