Shalat berjamaah menjadi salah satu rutinitas khas di sebuah pesantren. Saat azan berkumandang, ratusan santri akan berbondong-bondong menuju masjid menampakkan khusyuknya ibadah di pondok.

Jika di SPIDI, santri akan bergegas ke masjid Ummi Andi Murni Badiu, salah satu spot ternyaman. Selain shalat, tempat ini juga favorit untuk murojaah hafalan para santri.

Shalat berjamaah adalah ibadah yang memperlihatkan indahnya kebersamaan, selain ganjaran pahala yang lebih tinggi derajatnya di sisi Allah.

Sebagaimana Rasulullah saw bersabda:وقال صلى الله عليه وسلم: {صَلاَةُ الجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَة الفَذِّ بِسَبْعٍ وعِشْرِينَ دَرَجَةً}.

Artinya: Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan selisih 27 derajat. (HR. al-Bukhari)

Menjadi salah satu karunia terbesar bagi mereka para santri yang merasakan nikmatnya kehidupan di pesantren. Setiap hari diisi dengan amalan saleh yang semakin mendekatkan kita kepada Allah.

Saat di luar sana, orang tua khawatir akan bahaya pergaulan bebas, maraknya konten-konten negatif yang beredar di media sosial yang semakin menggerus akhlak dan akidah para generasi.

Namun, bukan menjadi masalah bagi generasi qur’an yang sekolah maupun berasrama di pesantren, lingkungan terjaga dan jauh dari hingar bingar dunia maya.

Kurikulum berbasis Al-Qur’an dan nilai nilai kepesantrenan yang diimbangi pengetahuan akademik, adalah formulasi pendidikan yang tepat untuk menyiapkan masa depan seorang calon pemimpin unggul, di masa depan.

Rutinitas pesantren terbukti melatih kemandirian dan kedisiplinan seorang anak. Anak ditempa untuk belajar menerima dan menghargai lingkungan, keadaan, dan karakteristik temannya yang beragam.

Seperti salah satu nasihat dari dewan pembina SPIDI, Ustazah Mutiah Arif, “Pesantren mengajarkan anak kemandirian, disiplin, bertanggung jawab, serta membentuk perilaku dan karakter mulia.” Tuturnya.

Proses mendidik terbaik bagi ibu yang sukses mendidik 10 anak hafiz/hafizah ini. Terutama ia katakan bagi seorang anak perempuan, sebab ia akan menjadi Ibu, madrasah pertama bagi anaknya.

“Maka patutlah disyukuri pendidikan pesantren adalah karunia. Santri adalah harapan orang tua dan keluarga. Syukuri sebagai petunjuk, kelak akan menjadi cahaya di tengah umat.” Tutur beliau menambahkan.

Adapun selain shalat berjamaah, nilai-nilai penguatan jiwa bagi santri di SPIDI juga diterapkan melalui konsep tilawa (tidur lebih awal) untuk melaksanakan Qiyamullail, dan berbagai program terbaik dalam membentuk karakter muslim yang kuat.

Kita tentu berharap, rutinitas tersebut menyebar ke sekolah umum maupun sekolah model boarding school lainnya. Sehingga terwujud Indonesia yang maju dengan lahirnya pemimpin cerdas dan berakhlak qur’ani: smart and salehah.