QAILULAH, TRADISI SPIDI YANG JUGA DITERAPKAN BERBAGAI NEGARA

BERITA News News SPIDI

Tidur siang (Qailulah) adalah sunnah Rasulullah Sallalahu Alaihi Wa Sallam yang diterapkan di Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI). Menjadi salah satu keunikan dari jadwal harian atau Daily Activity siswi.

Qailulah menjadi salah satu tradisi untuk menghidupkan sunnah Nabi di lingkungan SPIDI selain shalat Lail. Salah satu hadis yang menganjurkan qailula adalah hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bersabda:

قِيْلُوْا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ

“Tidurlah qailulah (tidur siang) karena setan tidaklah mengambil tidur siang.” (HR Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb 1: 12; Akhbar Ashbahan, 1: 195, 353; 2: 69)  

Manfaat Bagi Kesehatan

Di sisi lain, dari pandangan medis tidur siang juga bermanfaat bagi kesehatan. Sejumlah penelitian telah membuktikannya.

Prof Syihabuddin Qalyubi, menuliskan manfaat Qailulah yang dimuat dalam Jurnal Thib wa Shihhah (Medis dan kesehatan), bahwa tidur siang bermanfaat meringankan beban dari kelelahan seharian, relaksasi, peningkatan kewaspadaan dan menambah fokus dalam bekerja, memperbaiki mood untuk bekerja.

  • Baca Juga Tidur Siang, Sunnah Rasulullah yang Diterapkan di Barat 

Selain itu mampu meningkatkan kemampuan mengerjakan berbagai tugas, meningkatkan keterampilan yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang kompleks dan meningkatkan kemampuan kreativitas, meningkatkan kesehatan jantung, serta dapat mengurangi tingkat stres. (Dikutip dari harian Republika.co.id)

Budaya Tidur Siang di Negara Lain

Tidur siang juga ternyata telah diterapkan sejumlah negara. Seperti di Jepang, dikenal dengan budaya Inemuri. Dimana negara ini memiliki jam kerja yang berlebih, sehingga tidur di siang hari adalah hal yang lumrah bagi masyarakat.

Tidur di sela bekerja dianggap sebagai tanda ketekunan, dan bukti bahwa seseorang telah bekerja keras hingga kelelahan.

Selanjutnya Negara Spanyol disebut Siesta, warganya meluangkan waktu 2 hingga 3 jam, untuk istirahat dari bekerja dibawah teriknya panas matahari. Siesta pun dijadikan sebagai budaya yang berusaha dilindungi dalam aturan khusus Spanyol.

Italia, memiliki budaya Riposo yaitu tidur siang dengan durasi yang lebih pendek sekitar 1,5 hingga 2 jam. Ini dilakukan untuk penyesuaian kondisi tubuh dengan jam biologis manusia.

Sementara di Yunani disebut Mesimeri, meskipun sudah jarang dipraktikkan namun memiliki pengaruh cukup besar. Sebagian pertokoan tertutup saat siang hari, yang menunjukkan budaya Mesimeri masih dilakukan.

Sementara untuk di Amerika Serikat meskipun belum menjadi tradisi, tetapi kebiasaan ini mulai dijalankan beberapa perusahaan besar seperti Google. Karyawan diberi waktu tidur siang sebagai upaya meningkatkan produktivitas dalam bekerja.

Waktu Ideal Qailulah SPIDI

Tidur siang akan bermanfaat secara optimal apabila dilakukan secara tepat, dengan memerhatikan durasinya. Beberapa ahli menyarankan tidur siang sebaiknya dibatasi maksimal 30 menit.

Hal ini sesuai yang diterapkan di SPIDI, di sela-sela aktivitas belajar siswi diberi waktu qailulah kurang lebih 40 menit sebelum waktu dzuhur. Kegiatan ini juga diharapkan menjaga semangat belajar siswi selama seharian.

Sesuai artikel yang dituliskan oleh dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc.

“Tidur siang ternyata dapat memberikan efek yang lebih baik dibandingkan dengan meminum kopi pada saat anda merasa lelah ketika bekerja atau belajar. Hasil penelitian menunjukkan, tidur siang lebih efektif dalam meningkatkan daya ingat dan proses belajar,” (Dikutip dari klikdokter)

Qailulah sebagai waktu beristirahat di tengah hari, bagi siswi SPIDI yang telah memulai aktivitasnya sejak jam 2 pagi. Sehingga menjadi waktu untuk kembali memulihkan energi, agar bisa fokus melanjutkan pembelajaran.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 4 =

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.