Kisah Inspirasi, Perjuangan Sabrina Selesaikan Hafalan 30 Juz di Tahun Pertama Sekolah

SPIDI, Maros – Pekan pertama di SPIDI, seluruh siswi kembali dengan semangat membumikan Al-Qur’an.

Termasuk Sabrina, remaja usia 15 tahun asal Manado, Sulawesi Utara. Ia kini duduk di bangku SMA kelas X. Ini adalah tahun pertamanya di SPIDI.

Ia baru saja pulang dari kota asalnya setelah libur panjang lebaran. Ia kembali untuk meneruskan cita-citanya menjadi seorang hafizah.

Bulan Ramadhan kemarin bertambah istimewa bagi Sabrina, Alhamdulillah ia berhasil menuntaskan 1 target utamanya yaitu menyetorkan hafalan Qur’an 30 juz.

Saat para remaja lain antusias menyambut hari raya dengan berburu pakaian terbaru di pusat perbelanjaan. Ia justru memilih karantina tahfidz Qur’an agar fokus menyelesaikan target. 

Berkat usaha kerasnya, di mudik hari raya bulan lalu ia pulang ke kampung halaman dengan oleh-oleh gelar hafizah. Gelar mulia yang ia persembahkan buat ayah bundannya, tepat setelah sembilan bulan menimba ilmu di pesantren.

Awal Kisah Sabrina Menghafal Qur’an

Absabrina Aulia Ramadhani nama lengkapnya, ia memiliki karakter dan prinsip yang kuat dalam menghafal Al-Qur’an. Ia serius  menyelesaikan hafalan tiap hari, mulai dari satu hingga dua halaman.

“Sekali menghafal, saya berusaha untuk terus menuntaskannya walau ada kendala, atau lagi istirahat saya tetap menghafal, seperti itu yang saya lakukan” Jelasnya.

Perjuangan Sabrina hafal Qur’an berawal sejak sekolah dasar, keinginannya terus di support orang tua sehingga menguatkan langkahnya menjadi seorang hafizah.

Hingga kala itu ia berada di titik dimana harus memilih, satu diantara beberapa sekolah islam favorit  jenjang SMA.

Istikharah menuntun hati Sabrina untuk mantap memilih Sekolah Putri Darul Istiqamah, kiranya ia bisa melanjutkan hafalannya.

“Karena saya bermimpi memakai seragam pink, saya pun memilih SPIDI setelah hampir saja pilih pesantren di Jawa saat itu.”

Masuk di SPIDI berbekal sembilan juz hafalan Qur’an, ia semakin meningkatkan murojaah agar bisa segera khatam.

Setelah hafalannya sampai 14 juz, Sabrina pun mengikuti karantina bersama teman-teman lain. Di sana ia betul-betul fokus dengan Al-Qur’an.

“Saya lalu memutuskan ikut karantina Tahfidz agar bisa capai 30 juz.” 

Suka Duka Menghafal Al-Qur’an

Kisahnya menghafal Al-Qur’an juga diwarnai suka dan duka. Suasana hati yang kerap mempengaruhi mood, dan berbagai faktor juga dirasakan oleh gadis yang hobi membaca ini.

Belum lagi ada gejala gangguan pada penglihatannya yang Sabrina ceritakan dalam perjuangannya meraih mahkota kemuliaan. Amblyopia atau lebih dikenal dengan sebutan mata malas harus ia lawan saat-saat tertentu.

“Ya apapun kendalanya bagi Sabrina ya harus dilawan demi berjuang menghafal Al-Qur’an.” Tuturnya.

Ia terus memotivasi dirinya ketika langkah demi langkah ia tempuh bersama para pejuang hafizah di SPIDI.

“Saya selalu yakinkan diri, jadi anak muda yah harus selalu optimis terus dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Karena nanti kedepannya kita yang bakal memberi manfaat juga untuk orang lain.” Sebuah pesan yang jarang dimiliki oleh pola pikir remaja seusia Sabrina.

Harapan Setelah Khatam

Dengan keyakinan dan tekad Sabrina, ia kini menyandang hafizah. Ia ingin memakaikan mahkota mulia buat ayah bundanya kelak di akhirat. Sabrina berharap kedepannya akan terus meningkatkan hafalan, ia teringat akan pesan orang tua saat mendengar kabar bahwa ia telah menyelesaikan 30 juz.

“Orang tua bilang kalau ini bukan akhir menghafal, kedepannya harus terus murojaah untuk menjaga hafalan,” pesan dari Ibu Sabrina.

Ia sepakat akan hal itu, sebab Sabrina ingin terus menjadikan Al-Qur’an hidup dalam jiwanya, dan cerminan dari perilakunya.

“Yang terpenting penghafal Al-Qur’an sejati adalah ia yang mulia akhlak dan kesehariannya” Tuturnya.

Ia juga berharap terus menjaga hafalan Qur’an sepanjang perjuangannya mengejar cita-cita. Ia ingin menjadi seorang dokter yang bergelar hafizah.

Itulah kisah inspirasi dari Sabrina, semoga menjadi motivasi siswi SPIDI serta santri di luar sana yang juga memiliki tekad yang sama, memuliakan Al-Qur’an.

Semoga generasi Indonesia semakin maju dengan karakter cerdas dan berakhlak mulia yang mereka junjung tinggi.