KETIKA HIDAYAH MENYAPA; DARI RASA TIDAK SUKA HINGGA BETAH DAN AKHIRNYA LANJUT

BERITA News News SPIDI

Di antara kisah yang pernah kudengar tentang anak-anak masuk pesantren atau sekolah Islam berasrama adalah mereka tidak ada pilihan selain mengikuti keinginan orangtua yang ingin melihat anak-anaknya menjadi lebih baik. Lebih dekat dengan Al-Qur’an dan memiliki pengetahuan agama lebih dalam serta berakhlaqul karimah.

Nursyahrani Putri Sahur, salah seorang siswi kelas IX SMP IT SPIDI bercerita bagaimana awal Ia masuk Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI). Yang tahu SPIDI dari sang ayah.

“Ayah tahu SPIDI dari rekannya lalu ayah memberitahu saya.”
“Awalnya saya tidak mau masuk SPIDI tapi karena orangtua menyarankan, mau tidak mau saya harus mengiyakan. Betapa ayah dan ibu ingin melihat saya menjadi lebih baik. Anak yang bagus akhlaknya. Terjaga pergaulannya dan taat pada agama.”

Karena ketidaksukaan itu, menjalani hari-hari di SPIDI adalah hal yang membosankan baginya. Tidak betah dan selalu minta agar dipindahkan ke sekolah lain. Ditambah jarak dan sua dengan orangtua yang terpisah jauh.

“Selama satu setengah tahun saya terus meminta keorangtua untuk pindah sekolah. Alasannya karena tidak betah dan pisah jauh dari mereka.”

Tapi itulah jalan menuju kebaikan yang memang tidak selalu mulus-mulus saja. Hidayah butuh proses dan yang bertahanlah dalam proses itu yang akan jadi pemenang.

Satu setengah tahun berlalu, hasrat ingin pindah tak lagi bergelora. Baktinya kepada orangtua. Cinta dan sayangnya yang tak ingin melukiskan kekecawaan dihati keduanya, jalan keridhoan Allah Subhanahu Wa Ta’aala meruntuhkan segala ego.

“Tapi setelah dijalani dengan baik, lama-kelamaan akhirnya saya betah. Sudah tidak lagi merajuk dipindahkan. Saking betahnya, sampai-sampai saya ingin lanjut lagi ke SMA IT SPIDI. Kalau saya pindah, nanti ayah dan ibu kecewa. Toh, saya juga sudah betah. Takutnya juga kalau di luar nanti, pergaulan saya malah bebas sementara di SPIDI kita bisa terhindar dari semua itu.”

Perlahan Rani menemukan makna dari suka duka yang Ia hadapi selama di SPIDI. Yaaa, pergaulan bebas memang telah menjadi hal yang sangat memprihatinkan di tengah-tengah arus globlisasi saat ini.

Namun selain menjaga diri dari pergaulan bebas, Rani ternyata memiliki satu cita-cita mulia yang ingin dipersembahkan kepada ayah dan ibunya.

“Saya lanjut SPIDI karena ingin membanggakan orangtua. Dan kupilih program tahfidz. Semoga saya bisa menjadi hafidzah 30 juz. Semua itu untuk membahagiakan ayah dan ibu. Siapa tau nanti kalau saya jadi hafidzah, saya bisa memasangkan mahkota dan menarik keduanya ke Surga.”

Maasay Allah, menjadi hafidzah 30 juz kini menjadi impian yang ingin ia wujudkan di SPIDI kelak.

Berawal dari rasa tidak suka hingga akhirnya betah ternyata membuat ananda ingin lanjut ke SMA Tahfidzul Qur’an.

Yang tidak kita sukai bisa adalah sesuatu yang lebih baik untuk kita.
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Percayalah selalu, bahwa apa yang Allah takdirkan untuk kita semuanya adalah yang terbaik. (IF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 + ten =

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.