Menikmati suasana pagi hari terasa lebih sejuk dengan semilir angin yang berhembus dari balik pepohonan rindang di SPIDI. Selalu terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dari setiap sudut yang ada. Sebuah taman yang dikelilingi bunga dan tumbuhan hijau salah satunya, menjadi spot favorit para hafizah di SPIDI.

Terlihat para santri memegang Al-Qur’annya masing-masing, murojaah di tengah suasana alam yang menyegarkan, seraya ikut mendoakan para pejuang kalam ilahi smart and shaleheh di sini.

Almira Khairiyah Bilqis (14 Tahun) salah satunya, duduk di gazebo sambil menatap bacaan Al-Qur’annya dalam-dalam. Teringat kisahnya, saat ia memilih sekolah Islam dengan sistem asrama atau biasa disebut Islamic boarding school atas keinginannya sendiri.

Bilqis sapaannya, tak banyak anak yang seusianya saat itu baru saja tamat SD, lantas dengan mudahnya ingin pisah dengan orang tua, apalagi untuk bertempat tinggal asrama dalam waktu yang tidak singkat.

Demi menempuh pendidikan islami dan meraih gelar hafizah, ia bertekad untuk tinggal dan belajar di sekolah boarding, setelah kedua orang tuanya memperkenalkan Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) kepada Bilqis ketika itu.

Bilqis gadis belia asal Kabupaten Polewali Sulawesi Barat, dari kampung halaman Bilqis, butuh waktu tempuh sekitar 5 jam untuk bisa sampai di SPIDI. Sehingga selain aturan pondok, jarak juga menghendaki Bilqis tak bisa bertemu dengan orang tuanya sesering mungkin. Namun, Bilqis mencoba kuat dan bersabar menghadapi hari-hari di sekolah dan asrama dengan baik.

Dua tahun proses menghafal Al-Qur’an Bilqis lalui di SPIDI, hingga ia memutuskan untuk ikut karantina menghafal Al-Qur’an. Karantina intensif selama sebulan agar ia fokus betul dan bisa mengkhatamkan hafalannya.

 

Suka duka selama menghafal pun telah banyak dirasakan gadis yang hobi menggambar animasi ini. Saat ditanya kenapa memilih menghafal Al-Qur’an? Ia hanya menjawab singkat, tapi begitu dalam maknanya.

“Karena menjadi hafiz Qur’an bukan hanya kesuksesan di dunia yang kita dapat, tetapi akhirat juga,” katanya.

Bukan perjalanan yang mudah selama menghafal, banyak tantangan dan godaan juga yang kadang menyelimuti perasaan gadis berkacamata ini. Mulai dari hafalan yang tak kunjung tertinggal dikepala, kadang lelah, atau mood yang tak bersahabat.

“Pernah ada waktu, dimana saya sangat sulit menghafal, sudah capek tapi karena karantina saya harus mencari cara gimana agar tidak terjebak,” tuturnya.

Bilqis saat itu menenangkan diri, ingat kembali visi dan tekad dari awal hingga berserah diri kepada Allah. Ia mencoba bersabar dan berdoa, sebagaimana ayat Al-Qur’an yang selalu menjadi penyemangatnya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (153)

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah, ayat 153).

Akhirnya ia pun dapat melalui semua itu dengan baik juga lancar

Bilqis juga berharap bisa memakaikan mahkota kemuliaan bagi orang tuanya di akhirat kelak. Selain itu, Bilqis mempunyai tekad kuat bahwa yang terpenting dari menghafal Al-Qur’an adalah menerapkan akhlak Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga saya selalu ingat, bahwa bukan hanya sekedar hapal, tapi akhlak-akhlak terpuji yang dijelaskan dalam Al-Qur’an wajib diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Bilqis.

Masyaallah, Bilqis adalah salah satu hafizah di SPIDI, cerdas, berbakat dan shalehah. Anak dari Bapak Sugiarto dan Ibu dr. Yulistiowati Purwoningsih ini berharap dapat mengikuti jejak ibunya sebagai seorang dokter, dengan gelar istimewa yang senantiasa melekat padanya, yaitu hafizah.

Satu pesan yang sering disampaikan Bilqis, adalah bahwa menjadi hafizah memiliki tanggungjawab mulia, yaitu berkhidmat dan berdakwah untuk umat. Ia bahkan mulai sering menjalani hal itu, Bilqis aktif menyebarkan konten dakwah melalui video animasi kreatif yang ia ciptakan. MasyaAllah Barakallahu Fiik.